Monitoring dan Evaluasi SLRT Sekecamatan Salopa Dari Dinsos

Rapat evaluasi SLRT seKecamatan dipimpin oleh TKSK Kecamatan Salopa dan dari Dinas Sosial.

karyamandala.desa.id. Selasa tanggal 15 Januari 2019 bertempat di Aula Desa Mandalahayu berlangsung rapat monitoring dan evaluasi program SLRT dari Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya. SLRT (Sistem Layanan Rujukan Terpadu) merupakan sistem layanan yang membantu untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat miskin dan rentan berdasarkan profil dalam daftar penerima manfaat dan menghubungkan mereka dengan program-program perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah pusat ataupun daerah sesuai dengan kebutuhan mereka, seperti dikutip dari panduan SLRT Kemensos.

Rapat evaluasi SLRT seKecamatan dipimpin oleh TKSK Kecamatan Salopa dan dari Dinas Sosial.

Program SLRT mulai diperkenalkan pada awal Oktober, dimana dari 351 desa yang ada di kabupaten Tasikmalaya baru 50 desa yang mendapat program SLRT. Dari 50 desa tersebut hanya 2 Desa yang mendapat bantuan biaya untuk membentuk lembaga PUSKESOS (Pusat Kesejahteraan Sosial).

Untuk 50 desa yang mendapat program SLRT, masing-masing ada yang namanya sebagai fasililalor SLRT desa 1 orang. Nantinya fasilitator akan bekerja melayani berbagai pengaduan dan keluhan masyarakat miskin yang ada di daerahnya. Setiap keluhan dan pengaduan dari masyarakat oleh fasilitator di data dan dimasukan pada aplikasi SLRT yang ada di Tab Android pemberian hak guna pakai dari kementrian sosial. Selain itu fasilitator juga akan menerima operasional sebagai pengganti transfortasi dan juga kuota yang dipakai dalam melakukan tugasnya. Setiap bulan setiap fasilitator SLRT akan menerima operasional sebesar Rp. 350.000,- ditambah Rp. 50.000,- sebagai pengganti kuota.

Pemantapan aplikasi SLRT dan sik_ng setelah evaluasi dari Dinas Sosial.

Dari hasil evaluasi SLRT yang dilaksanakan di Desa Mandalahayu oleh Dinsos Sosial setelah 3 bulan berjalan tercatat ada beberapa desa di Kecamatan Salopa yang belum melakukan pendataan. Bagi beberapa desa tersebut diharapkan fasilitatornya untuk ke depan dapat lebih aktif bekerja memenuhi kewajibannya atau kalau sudah tidak bisa bekerja karena alasan apapun lebih baik keluar dan diganti fasilitatornya oleh orang baru, begitu seperti yang dikatakan oleh Pak Carmono dari Dinsos.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan