Kuda Lumping Jangan Sampai Terasing

Mbah Mulud menunjukkan peralatan yang masih ada, yang dipakai dalam pentas kuda lumping.

Ada suatu permainan

Permainan unik sekali

Orang naik kuda, tapi kuda bohong

Namanya kuda lumping

Anehnya permainan ini

Orangnya bisa lupa diri

Dia makan rumput, juga makan kaca

Aduhai ngeri sekali

Itu kuda lumping, kuda lumping

Kuda lumping, kesurupan

Itu kuda lumping, kuda lumping

Kuda lumping, loncat-loncatan

Tulisan diatas merupakan sebagian dari lirik lagu yang berjudul Kuda Lumping. Ya, itulah Kuda lumping salah satu kesenian daerah yang akhir-akhir ini semakin tergerus oleh kesenian modern. Kuda lumping berasal dari daerah banyumas Jawa Tengah.

Di Desa Karyamandala, kesenian ini sempat populer dan mendapat perhatian dari masyarakat pada sekitar tahun 80-90-an. Kesenian ini mulai muncul dan dipopulerkan di Desa Karyamandala oleh seorang tokoh yang bernama Mbah Mulud.

Mbah Mulud menunjukkan peralatan yang masih ada, yang dipakai dalam pentas kuda lumping.

Mbah Mulud merupakan seorang perantau yang berasal dari daerah Cilacap, Jawa Tengah. Dulu pada sekitar tahun 1982, ia membentuk sebuah grup kuda lumping yang bernama grup Sukamulya. Grup ini mulai pentas di acara HUT RI, dilapang Desa Mandalahayu. Sejak saat itu, Grup Sukamulya mulai terkenal dan mulai ada panggilan mentas diberbagai daerah di sekitar wilayah Kecamatan Salopa. Di wilayah Desa Karyamandala sendiri, grup sukamulya secara rutin setiap setahun sekali tampil pada acara kegiatan HUT RI.

Namun, di awal tahun 2000-an Grup Sukamulya, mulai redup. Hal ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya: Penggilan untuk mentas mulai berkurang, Upacara HUT RI selalu digabung di Lapang Kecamatan sehingga membuat para pemain kuda lumping enggan mentas karena alasan jarak, masyarakat khususnya kaum muda kurang minat dengan tontonan kuda lumping, kurangnya perhatian dari pemerintah setempat khususnya pemerintah desa, kesulitan dalam mencari pemain yang bersungguh-sungguh menekuni kesenian ini.

Mbah Mulud sendiri bukannya enggan untuk terus memajukan kesenian kuda lumping ini. Namun, apa daya keterbatasan ekonomi dan modal membuat para  pemain jadi sulit untuk diajak mentas. Selain itu, yang paling sulit adalah dalam mencari pemain yang benar-benar serius untuk menjadi kuda lumping. Karena untuk menjadi pemain kuda lumping yang kesurupan diperlukan ritual terlebih dahulu sebelum mentas. Diantara ritual yang harus dilakukan, diantaranya: harus berpuasa selama tiga hari tiga malam, mandi membersihkan badan di 7 sumur yang berbeda dalam satu malam. Kebanyakan para pemain baru atau para pemuda penerus, keberatan dalam melakukan ritual tersebut. mereka kebanyakan tidak kuat dan ketakutan akan hal-hal yang mistis.

“Mbah Mulud berharap, pemerintah setempat khususnya pemerintah desa berperan aktif dalam rangka mempertahankan kesenian kuda lumping ini agar tidak musnah, dan tetap dapat dinikmati oleh masyarakat sebagai hiburan rakyat. Karena kalau saya sendiri yang berjuang susah, terutama dalam hal pembiayaan. Jika ada perhatian dari pemerintah atau ada kebijakan untuk terus memajukan kesenian tradisional khususnya kuda lumping ini, Insyaalloh saya selalu siap kapan pun dibutuhkan.” tutr Mbah Mulud.

#uupemajuankebudayaan

#objekpemajuankebudayaan

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan